Lowongan pekerjaan

 

Dibutuhkan :

PERAWAT untuk ditempatkan dirumah sakit dan klinik JABODETABEK (GAJI MIN 1.5 JUTA)

PERSYARATAN:

perempuan/laki-laki

Pendidikan min d3 keperawatan

Usia min 21 th

 

Kirim lamaran ke :

LPP RESWARA MEDIKA PURWOKERTO

JL. Senopati no.54 Arcawinangun Purwokerto Timur atau hub. Ibu yanti (085725837074)

Aside  —  Posted: January 23, 2014 in Uncategorized

BAB I, II, III, IV, V

Posted: July 20, 2012 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.  Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Fauzi, 2008). Sekitar 1 milyar manusia atau 1 dari 6 manusia di bumi ini adalah remaja dan 85% diantaranya hidup di negara berkembang (UNFPA, 2000). Banyak sekali remaja yang sudah aktif secara seksual meski bukan atas pilihannya sendiri. Kegiatan seksual menempatkan remaja pada tantangan risiko terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi seperti kehamilan remaja, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.

Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks dan mengkhawatirkan. Hal ini ditunjukkan dengan masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Remaja perempuan dan laki-laki yang tahu tentang masa subur baru mencapai 29,0 % dan 32,3 %. Remaja perempuan dan remaja laki-laki yang mengetahui risiko kehamilan jika melakukan hubungan seksual sekali, masing-masing baru mencapai 49,5 % dan 45,5 %.

1

Risiko kesehatan reproduksi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan misalnya kebersihan organ-organ reproduksi, hubungan seksual pranikah, akses terhadap pendidikan kesehatan, kekerasan seksual, pengaruh media massa, gaya hidup yang bebas, penggunaan NAPZA, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan kurangnya Kedekatan remaja dengan kedua orangtuanya dan keluarganya (PATH, 2000). Pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, remaja perlu mendapat informasi yang cukup, sehingga mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan yang seharusnya dihindari (Wardah, 2007). Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari hal-hal yang  negatif yang mungkin akan dialami oleh remaja yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi remaja (Wardah, 2007).

Remaja juga perlu menyadari akan pentingnya pembuatan keputusan untuk menolak setiap kegiatan seksual yang rentan terjadi pada masa remaja karena setiap kegiatan seksual mempunyai risiko negatif tentang kesehatan reproduksinya. Hubungan atau kontak seksual pada remaja di bawah 17 tahun juga berisiko terhadap tumbuhnya sel kanker pada mulut rahim, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, melakukan aborsi, dan lebih jauh dapat menyebabkan komplikasi berupa ganguan mental dan kepribadian pada remaja (Ernawati, 2007).

Remaja putri paling rentan dalam menghadapi masalah kesehatan sistem reproduksinya. Hal ini dikarenakan secara anatomis, remaja putri lebih mudah terkena infeksi dari luar karena bentuk dan letak organ reproduksinya yang dekat dengan anus. Segi fisiologis, remaja putri akan mengalami menstruasi, sedangkan masalah-masalah lain yang mungkin akan terjadi adalah kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah yang berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Segi sosial, remaja putri sering mendapatkan perlakuan kekerasan seksual. Risiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditekan dengan pengetahuan yang baik tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).

Pengetahuan tentang KRR ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai dari usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi (BKKBN, 2005).

Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukan ditahun 2011 penderita HIV mencapai 15.589 penderita dan AIDS sebanyak 1805 penderita (Kemenkes, 2011). Di Jawa Tengah pengidap HIV/AIDS berkisar 909 penderita (Dinkes Profinsi Jawa Tengah, 2011). Di Kabupaten Banyumas terdapat 224 pengidap HIV dan AIDS 108 kasus dengan penderita 51 warga Banyumas meninggal dunia (DKK Banyumas, 2011).

Jumlah kasus HIV/AIDS dikomulatifkan berdasarkan pekerjaan maka anak sekolah/mahasiswa menduduki peringkat ke-5 dengan jumlah 900 penderita. Dari hasil wawancara siswa SMA N 4 Purwokerto didapatkan 10 siswa belum mengetahui tentang kesehatan reproduksi dan penyalahgunaanya seperti seks diluar nikah, serta belum paham mengenai penyakit IMS dan HIV/AIDS. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian bagaimana tingkat pengetahuan siswi SMA N 4 Purwokerto tentang kesehatan reproduksi remaja

  1. Rumusan Masalah

“Adakah perbedaan tingkat pengetahuan siswi SMA N 4 Purwokerto kelas XI sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja ?”

  1. Tujuan Penelitian

Umum

Mengetahui perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi siswi SMA N 4 Purwokerto kelas XI sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Khusus

  1. Mengetahui gambaran pengetahuan kesehatan reproduksi sebelum pemberian pendidikan kesehatan siswi SMA N 4 Purwokerto kelas XI
  2. Mengetahui gambaran pengetahuan kesehatan reproduksi setelah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi siswi SMA N 4 Purwokerto kelas XI
  3. Mengetahui perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi siswi SMA N 4 Purwokerto kelas XI
  4. Manfaat Penelitian
    1. Bagi Remaja
      1. Mengetahui tingkat pengetahuan siswi-siswi SMA N 4 Purwokerto tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
      2. Memberikan pandangan tentang dampak negatif dari kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
      3. Untuk membuka wawasan tentang pengetahuan kesehatan reproduksi remaja sehingga terbentuk sikap seksual pranikah yang memadai.
    2. Bagi Institusi pendidikan

Pihak institusi pendidikan, diharapkan dapat sebagai bahan pertimbangan untuk lebih meningkatkan pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja dengan metode yang tepat & efektif.

  1. Bagi Profesi

Sebagai sumbangan aplikatif bagi tenaga kesehatan terutama bidan agar lebih meningkatkan perhatian dalam memberikan informasi mengenai pengetahuan seksual pranikah remaja dalam kaitannya dengan pembentukan sikap seksual pranikah remaja.

  1. Bagi Petugas Kesehatan

Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk lebih sering mengadakan kegiatan- kegiatan mengenai pemberian informasi tentang kesehatan reproduksi remaja di seluruh sekolah-sekolah.

  1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan peneliti dan pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian.

 

 

  1. Keaslian Penelitian

Table 1.1

Penelitian yang pernah dilakukan

No.

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Jenis Penelitian

Hasil

Haryanto (2006) Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Kelas 3 SMP Negeri 5 Sragen Variabel bebas: pengetahuan dan sikap

 

Variabel terikat : pendidikan kesehatan

Komparatif dengan pendekatan crossectional Tingkat pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi sebelum menerima pendidikan kesehatan masih kurang, setelah menerima pendidikan kesehatan ada peningkatan pengetahuan. Siswa mempunyai sikap yang positif terhadap kesehatan reproduksi dan pendidikan kesehatan tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap siswa.

Mahyudi Noor (2007) Perbedaan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Antara SMU Yang Dibina dan Tidak Dibina Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja Variabel bebas : pengetahuan dan sikap

 

Variabel terikat : pembinaan pelayanan kesehatan

Komparatif deengan pendekatan crossectional Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap seksual pranikah dengan pembinaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja
Fristhian Lies Dwiyanti Studi Komparatif Pengetahuan Siswi SMA Kelas XI Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan Tentang  Kesehatan Reproduksi Remaja DI SMA N 4 Purwokerto Variabel Bebas : Pengetahuan

 

Variabel Terikat : Pendidikan Kesehatan

Komparatif dengan pendekatan cross sectional

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.   TINJAUAN PUSTAKA
  2. 1.    Pengertian Kesehatan Reproduksi Remajaa

Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. AtauSuatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. (WHO)

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera baik fisik, mental, sosial, yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dari sistem reproduksi wanita.  Pengetahuan kesehatan reproduksi sebaiknya  dilakukan sejak remaja, karena seseorang akan dapat mengenali kelainan  pada kesehatan reproduksinya sendini mungkin, terutama tentang menstruasi  (Kinanti, 2009).

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Fauzi., 2008).

 

 

8

 

 

  1. 2.    Konsep Seksualitas

Seksualitas adalah semua yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial (emosi, kepribadian, sikap dll). Kata seksualitas berasal dari kata dasar seks yang memiliki beberapa arti :

  1. Jenis kelamin            : manusia dibedakan secara biologis berdasarkan jenis kelaminnya yaitu laki-laki dan perempuan.
  2. Reproduksi seksual : bagian – bagian tubuh tertentu laki – laki maupun perempuan bisa menghasilkan bayi dengan kondisi – kondisi tertentu. Bagian tubuh tersebut adalah alat atau organ reproduksi. Organ reproduksi laki – laki dan perempuan berbeda karena memiliki fungsi yang berbeda.
  3. c.    Organ reproduksi      : organ reproduksi laki –laki dan perempuan terdiri atas organ bagian luar dan organ bagian dalam. Organ reproduksi perempuan antara lain vagina dan rahim, sedangkan organ reproduksi laki –laki antara lain penis dan testis.
  4. Rangsangan atau gairah seksual : rangsangan seksual dapat disebabkan perasaan tertarik (seperti magnet) sehingga terasa ada getaran aneh yang muncul dalam tubuh.
  5. Hubungan seks         : hubungan seks terjadi bila dua individu saling merasa terangsang satu sama lain sampai organ seks satu sama lain saling bertemu dan terjadi penetrasi.
  6. Orientasi seksual adalah kecenderungan seseorang mencari pasangan seksualnya berdasarkan jenis kelamin, yaitu :

1)    Heteroseksual            : tertarik pada jenis kelamin yang berbeda

2)    Homoseksual             : tertarik pada jenis kelamin yang sama. Misal gay pada laki – laki dan lesbian pada perempuan.

3)    Biseksual                    :     tertarik pada dua jenis kelamin

4)    Transeksual                : tertarik pada sesama Janis yang mempunyai sifat bertolak belakang dari kondisi fisiknya.

  1. Kelainan perilaku seksual adalah kecenderungan seseorang untuk memperoleh kepuasan seksual melalui tingkah laku tertentu yaitu :

1)    Vayaurisme     : memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip.

2)    Fetithisme       : memperoleh kepuasan seksual dengan benda mati untuk merangsang.

3)    Sadisme          : memperoleh kepuasan seksual dengan melukai dan menyiksa pasangannya.

4)    Machosisme   : memperoleh kepuasan seksual dengan melukai diri sendiri.

  1. 3.    Remaja
    1. Pengertian Remaja

Remaja pada umumnya didefenisikan sebagai orang-orang yang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara dalam terminologi lain PBB menyebutkan anak muda (youth) untuk mereka yang berusia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam sebuah terminologi kaum muda (young people) yang mencakup 10-24 tahun. Sementara itu dalam program BKKBN disebutkan bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 10-24 tahun. Masa remaja merupakan usia di mana individu berintegrasi dengan  masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat  orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama.  Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja sangat pesat, baik fisik maupun psikologis. Pada perempuan sudah mulai terjadinya menstruasi dan pada laki-laki sudah  mulai mampu menghasilkan sperma (Hurlock, 2009  ; Proverawati & Misaroh, 2009).

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Tumbuh kembang remaja adalah pertumbuhan fisik atau tubuh dan perkembangan kejiwaan/psikologis/emosi. Tumbuh kembang remaja merupakan proses atau tahap perubahan/transisi dari masa kanak – kanak menjadi dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis. Perubahan tersebut meliputi.

1)    Pubertas

Masa puber adalah masa seseorang mengalami perubahan fisik dan psikis. Masa puber ditandai dengan kematangan organ – organ reproduksi primer (sperma, ovum) maupun sekunder (kumis, rambut, payudara dan lain lain). Mengenai masa puber berkisar antara umur 13 – 14 tahun pada laki laki dan 11 – 12 tahun pada perempuan, pubertas perempuan lebih cepat dari pada laki – laki, dan pubertas berakhir pada umur 17 – 18 tahun. Mengenai batas umur ini tidak mutlak karena kondisi tubuh masing – masing berbeda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain gizi makanan, lingkungan keluarga, dan lain lain. Hal ini berpengaruh pada perasaan dan emosi remaja (perubahan psikologisnya).

2)    Perubahan Fisik Pada Perempuan

Pada perempuan hormon estrogen dan progesterone berperan aktif akan menimbulakn perubahan fisik, tumbuh payudara, pinggul mulai melebar dan membesar, tumbuh bulu – bulu halus disekitar ketiak dan vagina, mengalami haid atau menstruasi.

Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina.

Menstruasi dimulai saat pubertas berhenti sesaat waktu hamil dan menyusui dan berakhir saat menopause. Seorang perempuan menopause terjadi pada umur sekitar 45 – 50 tahun.

Menstruasi mulai terjadi setelah buah dada mulai membesar, tumbuh rambut disekitar alat vital dan vagina mengeluarkan cairan keputih – putihan.

Perempuan mengalami menstruasi kira – kira umur 9 tahun paling lambat kira – kira umur 16 tahun. Menstruasi akan terus berlangsung setiap bulan selama sel telur matang dan tidak dibuahi sperma.

Siklus menstruasi sekitar 25 – 32 hari tetapi ada yang kurang maupun lebih dari proses yang normal. Siklus ini tidak selalu sama karena ditentukan beberapa faktor antara lain gizi, stres, kelelahan, usia, dan pada masa remaja biasanya mempunyai siklus yang belum teratur, bisa maju atau mundur, karena hormone seksualnya belum stabil.

3)    Perubahan Fisik Pada Laki- laki

Pada laki – laki hormon testoteron akan membantu tumbuhnya bulu – bulu halus di sekitar ketiak, kemaluan, wajah, (jenggot dan kumis), terjadi perubahan suara pada laki –laki, tumbuhnya jerawat, dan dimulai reproduksi sperma yang pada waktu tertentu keluar mimpi basah. Pada saat laki – laki mimpi basah secara ilmiah sperma akan keluar saat tidur saat mimpi tentang seks.

4)    Perubahan Psikologis pada Perempuan dan Laki – laki

a)    Perubahan kebutuhan, konflik nilai pada keluarga dengan lingkungan dan perubahan fisik menyebabkan remaja sangat sensitif.

b)    Remaja sering bersikap irasional mudah tersinggung, stress.

c)    Ciri – ciri tingkah laku remaja yang sedang puber :

(1)  Mulai meninggalkan ketergantungan pada keluarga dan kenangan masa kecil.

(2)  Butuh diterima kelompoknya.

(3)  Mulai banyak menghabiskan waktunya dengan teman – teman sebaya.

(4)  Mulai mempelajari sikap serta pandangan yang berbeda antara keluarganya dengan lingkungan sekitar (tentang moral, seksualitas dll).

(5)  Mulai menghadapi konflik dan memutuskan apa saja norma yang harus diambil dari lingkungan sekitar serta berapa banyak ajaran orang tuanya yang dia tolak.

(6)  Mulai muncul kebutuhan akan privasi.

(7)  Mulai muncul kebutuhan keintiman dan eksrpresi erotik.

(8)  Mulai memperhatikan penampilannya.

(9)  Tertarik pada lawan Janis.

(10)  Ingin menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.

  1. 4.    Organ dan Fungsi Reproduksi
  2. Organ dan fungsi reproduksi wanita

1)     Alat kelamin bagian luar

a)    Mons feneris

Disebut juga gunung venus, menonjol ke bagian depan menutup tulang kemaluan.

b)    Labia mayora (bibir besar)

Bagian luar labia mayor terdiri dari kulit berambut, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat, bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini banyak mengandung ujung saraf sehingga sensitif saat berhubungan seks.

c)    Labia minora (bibir kecil)

Lipatan kecil dibagian dalam labia mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah sehingga dapat menjadi besar ketika keinginan seks bertambah. Labia ini analog dengan dengan kulit skrotum pada pria.

d)    Klitoris

Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada pria. Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf, sehingga sangat sensitif saat berhubungan seks.

e)    Vestibulum

Bagian ini dibatasi oleh kedua labia kanan – kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama) saluran kencing, kelenjar bartholini, dan kelenjar skene  (kelenjar – kelenjar ini akan mengeluarkan cairan pada saat permainan pendahuluan dalam hubungan seks sehingga memudahkan penetrasi penis)

f)     Hymen (selaput dara)

Merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang vagina luar. Pada umumnya hymen berlubang sehingga menjadi salluran aliran darah menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim). Pada saat hubungan seks pertama kali hymen akan robek dan mengeluarkan darah. Setelah melahirkan hymen merupakan tonjolan kecil yang disebut karunkule mirtiformis.

 

2)    Alat Kelamin Wanita Bagian Dalam

a)    Vagina (saluran senggama)

Yaitu sebuah saluran berbentuk silinder dengan diameter dinding depan ± 6.5 cm dan dinding belakang ± 9 cm yang bersifat elastik dengan berlipat – lipat. Fungsinya sebagai tempat penis berada pada waktu senggama, tempat keluarnya menstruasi dan bayi

b)    Cervix (leher rahim)

Bagian bawah rahim bagian luar ditetapkan sebagai batas penis waktu masuk ke dalam vagina. Pada saat persalinan tiba, leher rahim membuka sehingga bayi dapat keluar.

c)    Uterus (rahim)

Tempat calon bayi dibesarkan, bentuknya seperti buah alpukat gepeng dan berat normalnya antara 30 – 50 gr. Pada saat tidak hamil besar rahim kurang lebih sebesar telur ayam kampung, dindingnya terdiri dari :

(1)  Lapisan parametrium adalah lapisan yang paling luar dan lapisan yang berhubungan dengan rongga perut.

(2)  Lapisan miometrium adalah lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar dari proses persalinan kontraksi.

(3)  Lapisan endometrium adalah lapisan dalam tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan endometrium terdiri dari lapisan kelenjar yang dipenuhi berisi pembuluh darah.

d)    Tuba falopi (saluran telur)

Saluran di kiri dan kanan rahim yang berfungsi untuk dilalui oleh ovum dari indung telur menuju rahim dan tempat pembuahan (bertemunya ovum dan sperma). Ujungnya berbentuk fimbria.

e)    Fimbria (umbai – umbai)

Dapat dianalogikan dengan jari – jari tangan. Umbai – imbai ini berfungsi untuk menangkap ovum yang dikeluarkan indung telur.

f)     Ovarium (indung telur)

Organ dikiri dan kanan rahim di ujung saluran fimbria dan terletak di rongga pinggul indung telur berfungsi mengeluarkan sel telur, sebulan sekali indung telur kiri dan kanan secara bergiliran mengeluarkan sel telur. Sel telur adalah sel yang dihasilkan indung telur yang dapat dibuahi oleh sperma. bila tidak dibuahi maka akan ikut keluar pada saat menstruasi.

  1. Organ dan fungsi reproduksi laki – laki.

1)    Penis

Berfungsi sebagai alat senggama dan sebagai pembuangan sperma dan air seni. Pada keadaan biasa, penis tergantung di muka scrotum, sedangkan pada waktu terangsang seksual banyak darah yang dipompakan ke dalam jaringan erektil tersebut sedangkan pengeluaran darahnya tertahan. Dengan demikian penis terpompa penuh dengan darah dan berubah menjadi tegang, keras dan besar. Keadaan seperti ini disebut ereksi. Ereksi dapat terjadi karena rangsangan seksual dan pada dini hari karena meningkatnya hormone testoteron dan penuhnya kandung kencing.

2)    Glands

Bagian depan atau kepala penis. Glands banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Kulit yang menutupi bagian glands disebut foreskin. Dibeberapa Negara memiliki kebiasaan membersihkan daerah sekitar preputium ini atau yang dikenal dengan sunat. Sunat dianjurkan karena memudahkan pembersihan penis sehingga mengurangi kemungkinan terkena infeksi, radang dan beberapa macam kanker.

3)    Uretra (saluran kencing)

Saluran untuk mengeluarkan air seni dan air mani.

4)    Vas deferens

Saluran yang menyalurkan sperma dari testis menuju prostat. Vas deferens panjangnya ± 4.5 cm dengan diameter ± 2.5 mm.

5)    Epidydimis

Saluran – saluran yang lebih besar dan berkelok – kelok yang membentuk bangunan seperti topi. Sperma yang dihasilkan oleh testis kecil akan berkumpul di epidydimis.

6)    Testis (pelir)

Berjumlah dua buah untuk memperoduksi sperma setiap hari dengan bantuan testoteron, testis berada didalam scrotum, diluar rongga panggul karena pertumbuhan sperma membutuhkan suhu yang lebih rendah dari pada suhu tubuh.

Sperma yaitu sel yang berbentuk seperti berudu berekor hasil dari testis yang dikeluarkan saat ejakulasi bersama cairan mani dan bila bertemu dengan sel telur yang matang akan terjadi pembuahan.

7)    Scrotum

Kantung kulit yang melindungi testis berwarna gelap dan berlipat – lipat. Scrotum adalah tempat bergantungnya testis. Scrotum mengandung otot polos yang mengatur jarak jauh testis kedinding perut dengan maksud mengatur suhu testis agar relatif tetap.

8)    Kelenjar prostat

Merupakan pembentukan cairan yang akan bersama sama keluar saat ejakulasi dalam hubungan seksual. Kelenjar ini berada dibagian dalam dan berfungsi membentuk cairan pendukung sperma.

9)    Vesikula seminalis

Fungsinya hampir sama dengan kelenjar prostat

10) Kandung kencing

Tempat penampungan sementara air yang berasal dari ginjal (air seni)

  1. 5.    Kehamilan
  2. Pengertian

Kehamilan merupakan suatu bentuk alamiah reproduksi manusia yaitu proses regenerasi yang diawali dengan pertemuan sel telur dan sel sperma yang membentuk suatu embrio yang merupakan cikal bakal janin, dan berkembang didalam rahim sampai akhirnya dilahirkan sebagai bayi.

  1. Kondisi yang menyebabkan kehamilan

Usia subur adalah usai seseorang individu secara seksual sudah matang pada umur yang bervariasi untuk pria dan wanita. Untuk pria dimulai diproduksinya sperma biasanya ditandai dengan mimpi basah. Untuk perempuan dimulai sejak diproduksinya sel telur ditandai dengan terjadinya menstruasi.

Kehamilan diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur bertemu dengan sperma yang masuk dan membentuk sel yang akan tumbuh menjadi zygot. Zygot akan membelah dari satu sel menjadi dua sel lalu membelah menjadi empat sel dan seterusnya berkembang bergerak menuju rahim. Dirahim hasil konsepsi tersebut akan menanamkan diri pada dinding rahim, sel yang tertanam disebut embrio. Jika embrio bertahan hingga dua bulan akan disebut janin sampai pada saat bayi dilahirkan.

  1. Tanda – tanda kehamilan

1)    Terlambat haid

2)    Pusing, mual, muntah pada pagi hari (morning sickness)

3)    Buah dada membesar

4)    Daerah sekitar putting susu agak gelap

5)    Perut membesar

6)    Terdengar detak jantung janin

7)    Ibu merasakan gerakan janin

8)    Teraba bagian bayi

9)    Terlihatnya janin melalui usg

  1. Keadaan ideal untuk hamil

1)    Kesiapan fisik

2)    Kesiapan mental/emosional/psikologis

3)    Kesiapan sosial ekonomi

  1. Hubungan Pranikah

Kehamilan yang tidak diinginkan : kehamilan yang tidak diharapakan oleh salah satu atau kedua orang tua bayi.

  1. Sebab – sebab kehamilan yang tidak diinginkan :

1)    Ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan tentang perilaku seksual

2)    Akibat pemerkosaan, diantaranya dilakukan oleh teman kencannya sendiri

3)    Tidak menggunakan alat kontrasepsi

4)    Kegagalan menggunakan alat kontrasepsi tanpa pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar.

  1. Dampak dari kehamilan yang tidak diinginkan

1)    Perdarahan, komplikasi, kehamilan bermasalah

2)    Tidak percaya diri malu dan stress

3)    Dropp out sekolah dan dikucilkan masyarakat

4)    Aborsi yang dapat menyebabkan perdarahan, infeksi alat reproduksi, robeknya rahim.

  1. 6.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja

Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: kebersihan alat-alat genital, akses terhadap pendidikan kesehatan, hubungan seksual pranikah, penyakit menular seksual (PMS), pengaruh media massa, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan hubungan yang harmonis antara remaja dengan keluarganya.

  1. Kebersihan organ-organ genital

Kesehatan reproduksi remaja ditentukan dengan bagaimana remaja tersebut dalam merawat dan menjaga kebersihan alat-alat genitalnya. Bila alat reproduksi lembab dan basah, maka keasaman akan meningkat dan itu memudahkan pertumbuhan jamur. Remaja perempuan lebih mudah terkena infeksi genital bila tidak menjaga kebersihan alat-alat genitalnya karena organ vagina yang letaknya dekat dengan anus.

 

  1. Akses terhadap pendidikan kesehatan

Remaja perlu mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang seharusnya dihindari. Remaja mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi dan informasi tersebut harus berasal dari sumber yang terpercaya. Agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, kesehatan reproduksi remaja hendaknya diajarkan di sekolah dan di dalam lingkungan keluarga. Hal-hal yang diajarkan di dalam kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi remaja mencakup tentang tumbuh kembang remaja, organ-organ reproduksi, perilaku berisiko, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan abstinesia sebagai upaya pencegahan kehamilan, Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari dilakukannya hal-hal negatif oleh remaja. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja tersebut berguna untuk kesehatan remaja tersebut, khususnya untuk mencegah dilakukannya perilaku seks pranikah, penularan penyakit menular seksual, aborsi, kanker mulut rahim, kehamilan diluar nikah, gradasi moral bangsa, dan masa depan yang suram dari remaja tersebut.

  1. Hubungan seksual pranikah

Kehamilan dan persalinan membawa risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih besar pada remaja dibandingkan pada wanita yang berusia lebih dari 20 tahun. Remaja putri yang berusia kurang dari 18 tahun mempunyai 2 sampai 5 kali risiko kematian dibandingkan dengan wanita yang berusia 18-25 tahun akibat persalinan yang lama dan macet, perdarahan, dan faktor lain. Kegawatdaruratan yang berhubungan dengan kehamilan juga sering terjadi pada remaja yang sedang hamil misalnya, hipertensi dan anemia yang berdampak buruk pada kesehatan tubuhnya secara umum.

Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja seringkali berakhir dengan aborsi. Banyak surveiyang telah dilakukan di negara berkembang menunjukkan bahwa hampir 60% kehamilan pada wanita berusia di bawah 20 tahun adalah kehamilan yang tidak diinginkan atau salah waktu (mistimed). Aborsi yang disengaja seringkali berisiko lebih besar pada remaja putri dibandingkan pada mereka yang lebih tua. Banyak studi yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa kematian dan kesakitan sering terjadi akibat komplikasi aborsi yang tidak aman. Komplikasi dari aborsi yang tidak aman itu antara lain seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yaitu:

1)    Kematian mendadak karena pendarahan hebat.

2)     Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.

3)    Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.

4)    Rahim yang sobek (Uterine Perforation).

5)    Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.

6)    Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita).

7)    Kanker indung telur (Ovarian Cancer).

8)    Kanker leher rahim (Cervical Cancer).

9)    Kanker hati (Liver Cancer).

10) Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.

11) Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).

12) Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).

13) Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).

Selain itu aborsi juga dapat menyebabkan gangguan mental pada remaja yaitu adanya rasa bersalah, merasa kehilangan harga diri, gangguan kepribadian seperti berteriak-teriak histeris, mimpi buruk berkali-kali, bahkan dapat menyebabkan perilaku pencobaan bunuh diri.

  1.  Penyalahgunaan NAPZA

1)    Pengertian Narkoba

Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya (Kurniawan, 2008).

 

Narkoba dibagi dalam 3 jenis :

a)    Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, atau ketagihan yang sangat berat

(Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997).

Jenis narkotika di bagi atas 3 golongan :

(1)  Narkotika golongan I : adalah narkotika yang paling berbahaya, daya adiktif sangat tinggi menyebabkan ketergantunggan. Tidak dapat digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, morphine, putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.

(2)  Narkotika golongan II : adalah narkotika yang memilki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : petidin dan turunannya, benzetidin, betametadol.

(3)  Narkotika golongan III : adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi dapat bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : codein dan turunannya (Martono, 2006).

b)    Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan prilaku, digunakan untuk mengobati gangguan jiwa (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997).

Jenis psikotropika dibagi atas 4 golongan :

(1)  Golongan I : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat untuk menyebabkan ketergantungan, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya seperti esktasi (menthylendioxy menthaphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul), sabu-sabu (berbentuk kristal berisi zat menthaphetamin).

(2)  Golongan II : adalah psikotropika dengan daya aktif yang kuat untuk menyebabkan Sindroma ketergantungan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : ampetamin dan metapetamin

(3)  Golongan III : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sedang berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: lumubal, fleenitrazepam.

(4)  Golongan IV : adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitra zepam, diazepam (Martono, 2006).

c)     Zat Adiktif Lainnya

Zat adiktif lainnya adalah zat – zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :

(1)  Rokok

(2)  Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan.

(3)  Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan (Alifia, 2008).

  1. Media massa

Media massa baik cetak maupun elektronik mempunyai peranan yang cukup berarti untuk memberikan informasi tentang menjaga kesehatan khususnya kesehatan reproduksi remaja. Dengan adanya artikel-artikel yang dibuat dalam media massa, remaja akan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari untuk menjaga kesehatan reproduksinya.

  1. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi

Pelayanan kesehatan juga berperan dalam memberikan tindakan preventif dan tindakan kuratif. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit, klinik, posyandu, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan akses yang mudah terhadap pelayanan kesehatan, remaja dapat melakukan konsultasi tentang kesehatannya khususnya kesehatan reproduksinya dan mengetahui informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi. Remaja juga dapat melakukan tindakan pengobatan apabila remaja sudah terlanjur mendapatkan masalah-masalah yang berhubungan dengan organ reproduksinya seperti penyakit menular seksual.

  1.  Hubungan harmonis dengan keluarga

Kedekatan dengan kedua orangtua merupakan hal yang berpengaruh dengan perilaku remaja. Remaja dapat berbagi dengan kedua orangtuanya tentang masalah keremajaan yang dialaminya. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling dini bagi seorang anak sebelum ia mendapatkan pendidikan di tempat lain. Remaja juga dapat memperoleh informasi yang benar dari kedua orangtua mereka tentang perilaku yang benar dan moral yang baik dalam menjalani kehidupan. Di dalam keluarga juga, remaja dapat mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan dan yang harus dihindari. Orang tua juga dapat memberikan informasi awal tentang menjaga kesehatan reproduksi bagi seorang remaja.

 

 

  1. Penyakit Infeksi Menular Seksual dan HIV / AIDS
    1. IMS

IMS adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Hal ini lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti – ganti pasangan.

1)    Bahaya IMS

a)    Kemandulan pada pria dan wanita

b)    Kematian

c)    Kanker serviks

d)    Keguguran

e)    IMS menular pada bayi yang dikandung

f)     Memudahkan penularan HIV

2)    Jenis – jenis IMS

a)    Gonore (kencing nanah)

b)    Sifilis (raja singa)

c)    Herpes genetalis

d)    Trikomonas vaginalis

e)    Chancroid / sancroid (ulkus molle / koreng)

f)     Candiloma acuminate (jengger ayam)

g)    Candidiasis (jamur)

h)    Kutu pubis (kutu kelamin)

i)      Hepatitis B

j)      HIV / AIDS

 

3)    Cara penjegahan IMS

Cara pencegahan IMS dapat dilakuakn sebagian berikut dengan ABCDE :

a)    Abstinence : tidak melakukan hubungan seksual sebelum nikah

b)    Be faithfull : melakukan hubungan seks pada pasangan yang sah saja ayau pada pasangan suami istri

c)    Condom : menggunakan kondom seandainya salah satu dari pasangan mengidap IMS (khusus pada pasangan suami istri)

d)    Drugs  : tidak menggunakan atau mengkonsumsi NAPZA

e)    Equipment : jangan menggunakan peralatan yang tidak steril dan bergantian (jarum suntik, pisau cukur, jarum tattoo, tindik kuping)

4)    Pengobatan

IMS disebabkan oleh bakteri yang dapat disembuhkan. Sedangkan yang disebabkan oleh virus tidak dapat disembuhkan.

5)    HIV dan AIDS

HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang menyebabkan AIDS. HIV merusak system kekebalan tubuh sehingga tubuh mengalami kesulitan untuk melawan beberapa jenis bibit penyakit, bakteri, virus, jamur, parasit dan mikroba lainnya. Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah mereka yang terinfeksi HIV dan AIDS. Orang yang menderita HIV tidak sama dengan orang yang mengidap AIDS. AIDS atau Acquired immunodeficiency syndrome merupakam kumpulan gejala – gejala penyakit yang dikarenakan rusaknya system kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.

6)    Fase Perubahan HIV menjadi AIDS

Waktu yang dibutuhkan virus HIV berkembang menjadi AIDS sangat berbeda pada setiap orang tergantung pada berbagai factor antara lain status kesehatan seseorang dan perilaku sehat, termasuk perilaku seksual sehat. Ada 4 fase dalam perkembangan HIV menjadi AIDS.

a)    Fase I disebut dengan window period (periode jendela)

Individu sudah terpapar dan terinfeksi virus HIV, namun ciri – ciri terinfeksi belum terlihat meskipun melakukan tes darah. Pada fase ini antibody seseorang terhadap HIV belum terbentuk. Fase ini berkisar 1 – 6 bulan dari waktu individu terpapar.

 

 

b)    Fase II

Fase berlangsung lebih lama, yaitu sekitar 2 – 8 tahun setelah terinfeksi virus HIV. Pada fase ini individu sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit, tetapi sudah dapat menularkan pada orang lain.

c)    Fase III

Mulai muncul gejala – gejala awal penyakit yang disebut dengan penyakit terkait dengan HIV. Tahap ini belum dapat disebut sebagai gejala AIDS. Gejala – gejala yang berkaitan antara lain keluar keringat berlebih pada malam hari, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh – sembuh, nafsu makan menjadi berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan yang terus berkurang. Pada fase ketiga ini system kekebalan tubuh mulai berkurang.

d)    Fase IV

Sudah masuk pada fase AIDS dan baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel T nya. Pada fase ini timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi opportunistic yaitu kanker kulit atau sarcoma Kaposi, sariawan, infeksi paru – paru yang dapat menyebabkan radang paru – paru dan kesulitan bernafas, infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu – minggu dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.

7)    Penularan HIV dan AIDS

a)    Media penularan HIV dan AIDS

(1)  Cairan darah, bisa berasal dari luka, alat suntuk, pisau cukur, jarum tattoo, dan tindik kuping.

(2)  Cairan sperma

(3)  Cairan vagina

b)    Cara penularan yang paling umum adalah melalui:

(1)  Hubungan seksual (vagina, rectal, oral) dengan orang yang terinfeksi HIV tanpa menggunkan pengaman seperti kondom Penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV.

(2)  Transfusi darah yang mengandung virus HIV.

(3)  Ibu yang HIV positif pada bayinya selama kehamilan, pada saat persalinan atau setelah melahirkan, melalui air susu ibu yang tercemar darah Karena luka putting susu.

8)    HIV tidak menular melalui :

a)    Bersalaman

b)    Berpelukan

c)    Berciuman tanpa menimbulkan luka

d)    Batuk

e)    Bersin

f)     Gigitan nyamuk

g)    Memakai peralatan rumah tangga seperti alat makan

h)    Telepon

i)      Kamar mandi

j)      Kamar tidur

k)    Bekerja

l)      Bersekolah

m)  Berkendaraan bersama

n)    Memakai fasilitas umum seperti kolam renang dan wc umum.

9)    Tindakan Pencegahan HIV dan AIDS

HIV dan AIDS dapat dicegah dengan formula ABCDE :

a)    Abstinence : tidak melakukan hubungan seksual sebelum nikah

b)    Be faithfull : melakukan hubungan seks pada pasangan yang sah saja ayau pada pasangan suami istri

c)    Condom : menggunakan kondom seandainya salah satu dari pasangan mengidap IMS (khusus pada pasangan suami istri)

d)    Drugs  : tidak menggunakan atau mengkonsumsi NAPZA

e)    Equipment : jangan menggunakan peralatan yang tidak steril dan bergantian (jarum suntik, pisau cukur, jarum tattoo, tindik kuping)

10) Pemeriksaan HIV dan AIDS

Tes HIV adalah tes yang dilakukan untuk memastikan apakah individu yang bersangkutan telah dinyatakan terkena HIV atau  tidak. Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibody terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah. Ada beberapa jenis tes yang biasanya dilakukan diantaranya yaitu tes elisa, tes dipstick, tes western blot.

Masing – masing alat tes memiliki sensitifitas atau kemampuan untuk menemukan orang yang mengidap HIV dan spesifitas atau kemampuan untuk menemukan individu yang tidak mengidap HIV. Untuk tes anti body HIV semacam Elisa memiliki sensitifitas yang tinggi. Dengan kata lain presentasi pengidap HIV yang memberikan hasil negatif palsu sangat kecil. Sedangkan spesifitasnya adalah antara 99,7 % – 99,90 % dalam arti 0,1% – 0,3% dari semua orang yang tidak berantibody HIV akan di tes positif untuk antibody tersebut. Untuk itu hasil elisa positif perlu diperiksa ulang (dikonfirmasi) dengan metode western blot yang mempunyai spesifisitas lebih tinggi.

11) Pengobatan HIV dan AIDS

Sampai saat ini belum ditemukan vaksin pencegah HIV maupun obat yang dapat menyembuhkan HIV dan AIDS. Obat – obatan yang selama ini digunakan adalah obat yang hanya berfungsi untuk menghambat perkembangan virus HIV dalam tubuh. Obat – obat tersebut adalah obat antiretrovirat (ARV) dan obat – obat infeksi oportunistik.

  1. Pengetahuan

1)    Pengertian

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan non formal saja, akan tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. Menurut teori WHO yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri.

2)    Merupakan Tingkat pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifk dari seluruh bahan yangdipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap sutu materi atau objek.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007) yaitu:

1) Sosial ekonomi

Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang, sedang ekonomi dikaitkan dengan pendidikan, ekonomi baik tingkat pendidikan akan tinggin sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga.

2) Kultur (budaya, agama)

Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut.

3) Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.

4) Pengalaman

Berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, bahwa pendidikan yang tinggi maka pengalaman akan luas, sedangkan semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak.

 

 

Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari (Notoatmodjo, 2003:11) adalah sebagai berikut :

  1. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

a)    Cara coba salah (trial and error)

Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.

b)    Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin – pemimpin masyarakat bauk formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri

c)    Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.

  1. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula – mula dikembangkan oleh francis bacon (1561 – 1626), kemudian dikembangkan oleh deobold van daven. Akhirnya lahir sesuatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.

  1. Proses prilaku “tahu”

Menurut rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

  1. Kesadaran (Awareness), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu
  2.  Interest, yakni orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus
  3.  Evaluation, yakni orang tersebut menimbang baik tidaknya stimulus bagi dirinya
  4. Trial, orang tersebut mulai mencoba perilaku baru
  5. Adoption, yakni subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Pada penelitian selanjutnya, Notoatmodjo (2003), menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, mka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (ling lasting) namun sebaliknya jika perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek fisik, psikisis, dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap, dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial budaya.

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan
    1. Faktor internal

1)    Pendidikan Kesehatan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita – cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keslamatan dan kebahagiaan. Pendidikan Kesehatan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam,2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.

2)    Umur

Menurut Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaanya. Hal ini akan sebagai pengalaman dan kematangan jiwa.

  1. Faktor eksternal

1)    Faktor lingkungan

Menurut Nursalam (2003) lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat dipengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

2)    Sosial budaya

System sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat dipengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

  1. Kriteria Tingkat Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dari interpretasi dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

1)    Baik : hasil presentase 76 % – 100 %

2)    Cukup : hasil presentase 56 % – 75 %

3)    Kurang : hasil presentase < 56 %.

  1. 7.    Metode dan Media Promosi Kesehatan

Promosi atau pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan pada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok, atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya promosi kesehatan diharapkan akan membawa akibat terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran (Notoatmojo, 2010)

  1. Metode promosi kesehatan
    1. Metode promosi individual

Metode yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru atau membina seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi (Notoatmodjo, 2010)

Bentuk- bentuk pendekatan individual adalah :

(a)  Bimbingan dan penyuluhan

Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikomunikasikan dan dibantu penyelesaianya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).

(b)  Interview

Cara ini merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima perubahan. Untuk mempengaruhi apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.

  1. Metode promosi kelompok

Dalam memilih metode promosi kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Efektifitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

a)    Kelompok besar

Kelompok besar bila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang, metode yang digunakan adalah :

1)    Ceramah

Metode in baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.

2)    seminar.

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah keatas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari seorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan dinggap hangat dimasyarakat.

b)    Kelompok kecil

Kelompok kecil bila peserta penyuluhan kurang dari 15 orang, metode yang digunakan adalah :

1)    Diskusi kelompok

Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain. Pemimpin diskusi juga harus duduk diantara peserta sehingga tidak menimbulkan kesan yang lebih tinggi.

2)    Curah pendapat

Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaan pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah pendapat). Kemudian jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan mengemukakan pendapatnya, tidak boleh dikomentari oleh siapa pun, baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan akhirnya menjadi diskusi.

3)    Bola salju

Kelompok dibagi pasang –pasangan (1 pasang 2 orang) dan kemudian dilontarkan satu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulan. Kemudian setiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi diskusi seluruh anggota kelompok.

4)    Kelompok-kelompok kecil

Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (buzz group) yang kemudian diberi satu permasalahan yang sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Selanjutnya hasil diskusi tiap kelompok didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.

5)    Memainkan peran (Role play)

Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditujukan sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, mereka memperagakan bagaimana interaksi atau komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

6)    permainan simulasi

metode ini merupakan gabungan antara role play dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli.

  1. Metode promosi kesehatan massa

Metode pendidikan atau promosi kesehatan secara massa dipakai untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik. Pendekatan yang digunakan adalah awareness atau kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi, dan belum begitu diharapkan untuk sampai pada perubahan perilaku. Metode yang digunakan adalah :

a)    Ceramah umum (public speaking)

b)    Pidato-pidato/ diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik, baik TV maupun radio, pada hakikatnya merupakan bentuk promosi kesehatan massa.

c)    Simulasi, dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan adalah juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan masa.

d)    Tulisan-tulisan dimajalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel maupaun Tanya jawab atau konsultasi tentang kesehatan dan penyakit adalah merupakan bentuk pendekatan promosi kesehatan massa.

                                    e)    Bill board, yang dipasang dipinggir jalan, spanduk, poster, dan sebagainya juga merupakan bentuk promosi kesehatan massa.

  1. Media Promosi Kesehatan

Media promosi kesehatan adalah semua sasaran atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika (TV, radio, komputer) dan media diluar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya kea rah positif terhadap kesehatan.

1)    Tujuan media promosi kesehatan

Adapun beberapa tujuan atau alas an mengapa media sangat diperlukan di dalam pelaksanaan promosi kesehtaan antara lain:

a)    Media dapat mempermudah penyampaian informasi

b)    Media dapat menghindari kesalahan persepsi

c)    Dapat memperjelas informasi

d)    Media dapat mempermudah pengertian

e)    Mengurangi komunikasi yang verbalistik

f)     Dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap dengan mata

g)    Memperlancar komunikasi

2)    Penggolongan media promosi kesehatan

Penggolongan media promosi kesehatan ini dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain :

a)    Berdasarkan bentuk umum penggunaanya

Berdasarkan bentuk umum penggunaan media promosi dalam rangka promosi kesehatan, dibedakan menjadi :

(1)  Bahan bacaan: modul, buku rujukan/bacaan, folder, leaflet, majalah, bulletin.

(2)  Bahan peragaan: poster tunggal, poster seri, flipchart, tranparan, slide, film.

3)    Berdasarkan cara produksi

Berdasarkan cara produksinya, media promosi kesehatan di kelompokan menjadi:

(1)  Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Adapun macamnya adalah :

(a)  Poster

(b)  Leaflet

(c)  Brosur

(d)  Majalah

(e)  Surat kabar

(f)   Lembar balik

(g)  Sticker dan pamphlet

Fungsi utama media cetak adalah memberi informasi dan menghibur.

Kelebihan dan kelemahan media cetak.

1)    Kelebihannya :

a)    Tahan lama

b)    Mencakup banyak orang

c)    Biaya tidak tinggi

d)    Tidak perlu listrik

e)    Dapat dibawa kemana-mana

f)     Dapat mengungkit rasa keindahan

g)    Mempermudah pemahaman

h)    Meningkatkan gairah belajar

2)    Kelemahan

a)    Media in tidak menstimulir efek suara dan efek gerak

b)    Mudah terlipat

(2)  Media elektronika, yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Adapun macam-macam media tersebut adalah :

(a)  TV

(b)  Radio

(c)  Film

(d)  Video film

(e)  Cassette

(f)    CD

(g)  VCD

Kelebihan dan kelemahan media elektronik.

1)    Kelebihannya

(a)  Sudah dikenal masyarakat

(b)  Mengikutsertakan semua panca indra

(c)  Lebih mudah dipahami

(d)  Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak

(e)  Bertatap muka

(f)   Penyajian dapat dikendalikan

(g)  Jangkauan relatif lebih besar

(h)  Sebagai alat diskusi dan dapat diulang-ulang

2)    Kelemahannya

(a)  Biaya lebih tinggi

(b)  Sedikit rumit

(c)  Perlu listrik

(d)  Perlu alat canggih untuk produksinya

(e)  Perlu persiapan matang

(f)   Peralatan selalu berkembang dan berubah

(g)  Perlu ketrampilan penyimpanan

(h)  Perlu trampil dalam pengoperasian

(3)  Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya diluar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya

(a)  Papan reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara umum diperjalanan

(b)  Spanduk yaitu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar yang dibuat diatas secarik kain dengan ukuran tergantung kebutuhan dan dipasang disuatu tempat strategis agar dapat dilihat oleh semua orang

(c)  Pameran

(d)  Banner

(e)  TV layar lebar

Kelebihan dan kelemahan media luar ruang:

1)    Kelebihannya

a)    Sebagai informasi umum dan hiburan

b)    Mengikutsertakan semua panca indra

c)    Lebih mudah dipahami

d)    Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak

e)    Bertatap muka

f)     Penyajian dapat dikendalikan jangkauan relatif lebih besar

g)    Menjadi tempat bertanya lebih detail

h)    Dapat menggunakan semua panca indra secara langsung.

1)    Kelemahannya

a)    Biaya lebih tinggi

b)    Sedikit rumit

c)    Ada yang memerlukan listrik

d)    Ada yang memerlukan alat canggih untuk produksinya

e)    Perlu persiapan matang

f)     Peralatan selalu berkembang dan berubah

g)    Perlu ketrampilan penyimpanan

h)    Perlu ketrampilan dalam pengoperasiaannya

  1. Penyerapan materi dalam promosi kesehatan (Depkes RI, 2004)
    1. Melalui indra perasa : 1%
    2. Melalui indra peraba : 2%
    3. Melalui indra pencium : 3%
    4. Melalui indra pendengar : 11%
    5. Melalui indra penglihatan : 83%
    6. Presentasi yang dapat diingat jika menggunakan lebih dari 1 indra (Depkes RI, 2004)
      1. 10% dari yang kita baca
      2. 20% dari yang kita dengar
      3. 30% dari yang kita lihat
      4. 50% dari yang kita lihat dan dengar
      5. 80% dari yang kita ucapkan
      6. 90% dari yang kita ucapkan dan lakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.Kerangka Teori

 

pengetahuan kesehatan reproduksi remaja

 

Faktor internal yang mempengaruhi pengetahuan reproduksi remaja

 

  1. Pendidikan Kesehatan
  2. Umur

Faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan reproduksi remaja

 

  1. lingkungan
  2. sosial budaya
  3. Informasi

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja

 

  1. Kebersihan organ-organ genital
  2. Akses terhadap pendidikan kesehatan
  3. Hubungan seksual pranikah
  4. Penyalahgunaan NAPZA
  5. Media massa
  6.  Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi
  7. Hubungan harmonis dengan keluarga
  8. Penyakit Infeksi Menular Seksual dan HIV / AIDS

 

 

  1. Pengetahuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Kerangka Konsep

Variabel Terikat

Variable bebas

Pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja

Pengetahuan siswi tentang kesehatan reproduksi remaja

 

 

 

 

 

3.1 Kerangka Konsep

  1. Variabel Penelitian

Variable penelitian menurut Sudigdo Sastroasmoro merupakan karakteristik subjek penelitian yang berubah dari satu subjek ke subjek lainya.

  1. Variable Independen

Variable independen (variable bebas) ada variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variable dependen (terikat).

Variable independen dalam penelitian ini adalah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja.

  1. Variabel Dependen

Variable dependen (variabel terikat) adalah variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variable bebas.

Variable dependen dalam penelitian ini adalah  perbedaan pengetahuan siswi tentang kesehatan reproduksi remaja.

59

 

 

  1. Definisi Operasional

No.

Variabel

Definisi Operasional

Parameter

Kategori

Alat Ukur

Skala

  1.  
Pendidikan Kesehatan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Kegiatan menyebarkan pesan atau pengetahuan sehingga remaja jadi lebih tahu dan mengerti serta mau dan bisa melakukan anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan reproduksi remaja

 

-

-

-

-

  1.  
Pengetahuan Kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan yang diberikan tentang pengetahuan kesehatan reproduksi remaja Dengan menggunakan kuesioner yang berjumlah 20 pertanyaan yang terdiri dari 4 item pilihan jawaban. Jawaban kuesioner diberikan skor dalam bentuk angka, jika jawaban benar diberi skor 1 angka, jika jawaban salah maka diberi skor 0 angka. Angket Rasio
   

 

 

Table 3.1 Definisi Operasional

  1. Hipotesis

Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis 1 arah yaitu  dan

= Ada perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan  reproduksi remaja pada siswi kelas XI di SMA N 4 Purwokerto.

 

 

  1. Ruang Lingkup Penelitian

Tempat dan Waktu penelitian

  1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian di SMA N 4 Purwokerto Kabupaten Banyumas

  1. Waktu penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 15 Mei 2012.

  1. Rancangan penelitian

Jenis penelitian ini adalah pre-eksperiment. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan teknik one group pre test and post test design yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk menilai satu kelompok saja secara utuh (Notoatmojo, 2005).

Rancangan penelitian menggunakan one group pre test dan post test tanpa menggunakan kelompok pembanding (kontrol), tetapi pada pengujian pertama (pre test) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya ekperimen (program). Pada penelitian ini peneliti melakukan treatment yaitu pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja terhadap subjek penelitian dengan sengaja, terencana, kemudian dinilai pengaruhnya pada pengujian kedua.

O                X               O

1                                               2

 

O1 : Pretest : sebelum diberikan pendidikan kesehatan

O2 : Postest : setelah diberikan pendidikan kesehatan

X    : Intervensi : diberi pendidikan kesehatan selama 1 jam.

Prosedur :

  1. Menyiapkan satuan acara penyuluhan (SAP) atau rencana intervensi (X) pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja.
  2. Lakukan Observasi pada O1, yaitu Pretest untuk mengukur sejauh mana siswa mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum subjek dikenakan perlakuan.
  3. Berikan perlakuan (eksperiment treatment) pada subjek X yaitu memberikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja dengan media gambar alat optik (slide).
  4. Lakukan observasi pada O2, yaitu posttest untuk mengukur mean pada tingkat pengetahuan siswa setelah exposure pada variabel X.
  5. Bandingkan hasil observasi O1 dan O2 untuk menentukan seberapa perbedaan yang timbul, jika sekiranya ada, hal itu dari sebagai akibat tindakan pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja.
  6. Populasi, Sampel dan teknik sampel
    1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. (Sugioyono, 2004)

Populasi penelitian disini adalah siswa kelas XI di SMA 4 Purwokerto Kabupaten Banyumas.

  1. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang akan diteliti ayau sebagai jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Sampel penelitian disini adalah siswa kelas XI SMA N 4 Purwokerto sebanyak 158 siswi kelas XI dan memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut :

1)    Siswi kelas XI SMA N 4 Purwokerto

2)    Bersedia menjadi subjek penelitian

kriteria eksklusi sebagai berikut :

1)    Siswi kelas XI yang sedang sakit, ditugaskan keluar sekolah

2)    Menolak menjadi responden

Untuk menentukan besarnya sampel, dapat ditentukan dengan rumus Slovin :

n =       N

1 + N (d²)

n  = besar sampel

N = besar populasi

d  = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan 10% atau (0,1). (Abdul Nasir, 2011)

Perhitungan :

n =       N

1 + N (d²)

n =       158

1 + 158(0,1²)

N =  61.24 (62)

Jadi, sampel penelitian ini berjumlah 62 responden yang telah memenuhi syarat inklusif dan eksklusif.

  1. Teknik Sampling

Pengambilan teknik sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling  adalah teknik penetapan sampling yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan cirri-ciri yang dikehendaki (Abdul Nasir, 2011) teknik pengambilan sampel ini mendasarkan pada kriteria tertentu dari suatu tujuan yang spesifik yang sebelumnya ditetapkan oleh peneliti, subjek yang memenuhi kriteria tersebut menjadi anggota sampel. Dasar penentuan sampelnya adalah tujuan peneliti penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah sampel yang ada sebesar 62 anak dari 158 siswa kelas XI. Kemudian diambil 62 siswi yang akan dijadikan sampel.

  1. Teknik Pengumpulan Data
    1. Data Primer

Diperoleh dari angket atau questionnaire yang memuat daftar pertanyaan yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi remaja.

  1. Instrumen Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari identitas responden, pengetahuan responden teridiri dari 20 pertanyaan dengan 4 item pilihan jawaban jawaban.

  1. Metode pengolahan dan Analisis Data
    1. a.    Editing

Adakah upaya untuk memerilksa kembali kebenaran data yang diperoleh. Editing dalam penelitian ini setelah data terkumpul, yaitu jawaban kuesioner diperiksa kelengkapan pengisian, atau jawaban yang belum jelas.

  1. b.    Coding

Coding merupakan pemberian kode numeric (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Coding dalam penelitian disini memberikan kode angka pada jawaban responden untuk memudahkan analisis data.

  1. c.    Entry

Data entry adalah Kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master table atau data base computer. Data entry dalam penelitian ini adalah memasukkan data jawaban responden kedalam table sesuai dengan skor jawaban kemudian masukkan dalam master table.

  1. d.    Tabulating

Setelah data diolah, data-data disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi.

  1. Analisis data

1)    Analisis univariat.

Analisis untuk melihat gambaran distribusi frekuensi tiap variable yang diteliti.

2)    Analisis bivariat

Analisa ini merupakan analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi (Notoatmojo, 2002). Dalam penelitian ini peneliti menggunakna  Uji-t berpasangan (paired t-test). Uji-t berpasangan(paired t-test) adalah salah satu metode pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas (berpasangan). Ciri-ciri yang paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu individu (objek penelitian) dikenai 2 buah perlakuan yang berbeda. sehingga jika persyaratan tidak terpenuhi, maka harus ada solusi uji statistik lainnya. Uji statistik non parametrik menjadi solusinya yaitu dengan menggunkan uji wilcoxon.

Untuk operasionalnya :

  1. Uji ini didasarkan pada pasangan skor dari subjek yang sama, dasar analisis didasarkan pada selisih antara skor sesudah dan sebelum, selisih ini disebut dengan deviasi skore.
  2. Deviasi skor dengan mendasarkan pada tanda (-) atau (+).
  3. Buatlah ranking dari nilai deviasi dengan asumsi nilai mutlak (mengabaikan tanda negatif)
  4. Kembalikan tanda negative dan positif yang ada pada nilai deviasinya.

Nilai hitung (Th) diambil dari tanda yang lebih kecil baik untuk tanda (-) atau (+)alaupun menggunakan individu yang sama, peneliti tetap memperoleh 2 macam data sampel, yaitu data dari perlakuan pertama dan data dari perlakuan kedua (Kurniawan, 2008)

  1. Etika penelitian

Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika penelitian harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut :

  1. a.    Informed consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika ubjek bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan.

  1. b.    Anonymity

Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

  1. Kerahasiaan

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu akan dilaporkan pada hasil riset.

 

BAB IV

HASIL DAN BAHASAN

  1. A.   Gambaran Umum Tempat Penelitian
    1. 1.    Sejarah Berdirinya SMA Negeri 4 Purwokerto

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri  4 Purwokerto yang merupakan salah satu SMA Negeri di wilayah Kabupaten Banyumas. SMA Negeri 4 Purwokerto terdapat dijalan Letkol Isdiman Nomer 9 Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sekolah ini didirikan pada tanggal 4 september 1961 dengan nama Sekolah Guru Olahraga (SGO) sesuai surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia No.18/1961.

Tahun 1963, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Olahraga Republik Indonesia No.34 tahun 1063, tanggal 7 Agustus 1963, nama SGPD diubah menjadi Sekolah Menengah Olahraga Tingkat Atas (SMOA) Negeri Purwokerto dengan masa pendidikan 3 tahun.

Terhitung mulai tahun ajaran 1976, nama SMOA Negeri Purwokerto, diubah menjadi Sekolah Guru Olahraga (SGO) Negeri Purwokerto dengan masa pendidikan tetap 3 tahun, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0257/U/1976 tanggal 19 Oktober 1976.

Mulai tahun ajaran baru 1989/1990, untuk penerimaan siswa baru kelas I (satu) SGO Negeri Purwokerto beralih fungsi menjadi “Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas SMA Negeri 4 Purwokerto (sedang untuk murid kelas II dan III SGO masih tetap berlanjut sampai tamat pada waktunya). Mulai tahun 1991/1992 telah murni semua siswa SMA Negeri 4 Purwokerto.SMA Negeri 4 purwokerto memiliki siswa sebanyak 259 untuk kelas XI baik IPA maupun IPS.

Berdasarkan Surat pemerintah Komandan KODIM 0701/PPKP Banyumas No. PRIN-024/PPKP/12/1965 tanggal 18 Desember 1965 diberi pinjaman dengan status hak pakai/pinjam gedung bekas SMP/SD/TK Nasional yang dibubarkan oleh Pemerintah, berlokasi diJalan Komisaris Bambang Suprapto (sekarang Jalan Jendral MT Haryono) No.3/a Purwokerto. Yang digunakan bersama-sama SD Purwokerto Wetan V, KPAA Negeri dan SMT Pertanian Negeri Purwokerto.

Tahun 1970-sekarang, berdasarkan Surat keputusan Bupati KDH Tingkat II Kabupaten Banyumas NO.169/3/VI/KDH tanggal 16 November 1970, oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Banyumas, SGO Negeri Purwokerto diberi sebidang tanah seluas 9.595 m2 di Jalan Letkol Isdiman No. 9 Purwokerto, untuk dibangun sebagai kompleks SGO yang baru dan mulai ditempati sejak 5 februari 1973. (Tanah tersebut telah di-Sertifikatkan dengan sertifikat berstatus Hak Pakai No. 16 tahun 1978 di Desa Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto, Kabupaten Banyumas (sekarang kelurahan Purwokerto Lor kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas).

  1. 2.    Letak Geografis

SMA Negeri 4 Purwokerto terletak di Jalan Letkol Isdiman No. 9 Purwokerto, kelurahan Purwokerto Lor kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas sedang batas-batas Lokasinya dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Sebelah utara berbatasan dengan Rumah Makan Indonesia
  2. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Raya Letkol Isdiman Purwokerto
  3. Sebelah selatan berbatasan dengan SPBU Jalan overste Isdiman
  4. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Mangun Jaya.

 

  1. 3.    Tujuan SMA Negeri 4 Purwokerto

SMA Negeri 4 Purwokerto merupakan bagian integral dari system pendidikakn di Indonesia yang berdasarkan pancasila dan memiliki VISI Unggul Prestasi Luhur Budi Pekerti, handal Kreatifitas diharapkan SMA Negeri 4 Purwokerto dapat mengahasilkan lulusan yang memiliki Kecakapan hidup dikembangkan berdasarkan multiple intelegence mereka.

Disamping visi yang mengarah pada tujuan pendidikan nasional terdapat pula Misi yang dapat mengembangkan peserta didik dalam peningkatan pendidikan yaitu dengan melaksanakan pembelajaran dan bimbingan yang efektif sehingga potensi siswa berkembang optimal, menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah untuk memenangi persaingan mendorong dan membantu siswa untuk menemukan potensi dirinya sehingga berkembang secara optimal, menumbuhkan penghayatan terhadap pelajaran agama yang dianut dan budaya bangsa, menetapkan manajemen partisipasi dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan stokeholder.

 

  1. B.   Hasil Analisis
    1. Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

Sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja nilai tertinggi dari responden 7.50, nilai terendahnya 4.50 dengan nilai rata-rata 61.61 dan nilai standar deviasi 7.45.. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja SMA N 4   Purwokerto sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

Hasil Analisis Data

  1.    No.   Kategori
Nilai
  1. Nilai tertinggi
  2. Nilai terndah
  3. Rata-rata
  4. Standar deviasi
75

45

61.61

7.45

 

  1. Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja sesudah diberikan pendidikan kesehatan

Tabel 4.2 Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja di SMA  N 4 Purwokerto sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

 

  1.    No.   Kategori
Nilai
  1. Nilai tertinggi
  2. Nilai terndah
  3. Rata-rata
  4. Standar deviasi
90

60

75.96

8.53

 

Dari tabel 4.2 diatas terlihat bahwa sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, nilai tertinggi dari responden 90, nilai terendahnya 60 dengan nilai rata-rata 75.96 dan nilai standar deviasi 8.53.

  1. Perbedaan nilai pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

Tabel 4.3 Perbedaan pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja di SMA N 4 Purwokerto sesudah dan sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

 

  1.    No.   Kategori
Sebelum Sesudah
  1. Nilai tertinggi
  2. Nilai terendah
  3. Rata-rata
  4. Standar deviasi
75

45

61.61

7.45

90

60

75.96

8.53

 

Tabel 4.3 diatas terlihat bahwa ada perbedaan dari nilai pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja dengan nilai tertinggi sebelum diberikan pendidikan kesehatan 75 setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai tertingginya 90 Nilai terendah sebelum diberikan pendidikan kesehatan 45 setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai terendahnya 60 dengan nilai rata-rata sebelum diberikan pendidikan kesehatan 61.61 setelah diberikan pendidikan kesehatan 75.96 dan nilai standar deviasi sebelum diberikan pendidikan kesehatan 7.45 setelah diberikan pendidikan kesehatan terjadi perbedaan yaitu nilai standar deviasi menjadi 8.53 yang menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja. Berdasarkan hasil analisis dengan paired sampel t-test diperoleh nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebesar 61.61 dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan sebesar 75.96.

11.421 serta nilai probabilitas (ρ=0,00), oleh karena (ρ<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Keefektifan yang didapat dari hasil pre test dan post test  dapat dihitung dengan rumus

 

Rata-rata nilai Post test – Rata-rata nilai Pre Test x 100 = efektifitas pendkes

Rata-rata nilai Pre test

 

75.96 – 61.61 x 100 = 23.29 %

61.61

Tabel 4.4 Hasil analisis dengan paired sampel t-test

Variabel

Rata-rata

T

P

Pengetahuan

Pre test

61.61

11.421

.000

Post test

75.96

 

  1. C.   Bahasan Penelitian
    1. Nilai pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan

Untuk mengetahui nilai pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.1. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai sebelum diberikan pendidikan kesehatan dengan nilai tertinggi 75, nilai terendah 45, nilai rata-ratanya 61.61 dan nilai standar deviasinya 7.45 ini menunjukkan bahwa semakin kecil nilai standar deviasi maka pengetahuan responden semakin sama (homogen), semakin tinggi nilai standar deviasi menunjukkan pengetahuan responden yang semakin beragam (Heterogen). Dari hasil pre test menunjukkan bahwa nilai standar deviasi sebelum diberikan pendidikan kesehatan 7.45 yang menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja ini memang sudah beragam (heterogen). Hal ini dikarenakan sampel yang diambil sudah pernah mempelajari kesehatan reproduksi remaja. Dan karena usianya sama antara 16-17 tahun dan tingkat pendidikan yang diperoleh juga sama yaitu kelas XI semester II.

Informasi yang diberikan secara jelas mengenai kesehatan reproduksi remaja akan memberikan pemahaman yang baik kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi remaja, sehingga tidak membuat remaja kebingungan dalam mencari dan memahami penjelasannya. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi remaja sebagian besar remaja SMA N 4 Purwokerto masih kurang memahami tentang kesehatan reproduksi remaja, yaitu sebanyak 51 siswi dari 62 siswi yang menjadi responden.

 

  1. Nilai pengetahuan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang Kesehata Reproduksi Remaja.

Untuk mengetahui nilai pengetahuan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai sesudah diberikan pendidikan kesehatan meningkat dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 60, nilai rata-ratanya 75.96 dan nilai standar deviasinya 8.53 yang menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja ini lebih beragam (Heterogen) yang merupakan pengaruh dari pemberian pendidikan kesehatan dengan  kemampuan setiap responden dalam menerima dan memahami materi Kesehatan Reproduksi Remaja yang diberikan berbeda-beda antara satu siswa dengan siswa yang lain.

Berdasarkan teori, pengetahuan adalah hasil dari tahu, setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu melalui indra penglihatan, pendengaran, rasa, dan raga. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan dan informasi yang didapat seseorang, karena perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, karena responden yang diambil memiliki tingkat pendidikan formal yang sama, Menurut teori WHO yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri, maka perbedaan pengetahuan setiap remaja bisa dikarenakan informasi diluar pendidikan non formal yang didapat remaja secara individu seperti media massa, media elektronik dan informasi dari internet. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu.

Faktor lain yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pengetahuan adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial akan mendukung tingginya rendahnya pengetahuan seseorang, sedang ekonomi dikaitkan dengan pendidikan, ekonomi baik tingkat pendidikan akan tinggi sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga. Kemudian Kultur (budaya, agama). Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut. Pengalaman yang berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, bahwa pendidikan yang tinggi maka pengalaman akan luas, sedangkan semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak (Notoatmodjo, 2007)

 

  1. Perbedaan nilai pengetahuan remaja siswi kelas XI SMA N 4 Purwokerto kabupaten Banyumas tentang kesehatan reproduksi remaja, sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

Perbedaan dari nilai pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan rerpoduksi remaja dengan nilai tertinggi sebelum diberikan pendidikan kesehatan 75 setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai tertingginya mengalami peningkatan menjadi 90. Nilai terendah sebelum diberikan pendidikan kesehatan 45 setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai terendahnya mengalami peningkatan  menjadi 60 dengan nilai rata-rata sebelum diberikan pendidikan kesehatan 61.61 setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai rata-ratanya pun mengalami peningkatan 75.96 dan nilai standar deviasi sebelum diberikan pendidikan kesehatan 7.45, setelah diberikan pendidikan kesehatan terjadi perbedaan yang signifikan dengan nilai standar deviasi menjadi 8.53 yang menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja mengalami peningkatan keragaman tingkat pengetahuan, hal ini merupakan pengaruh adanya pendidikan kesehatan juga dikarenakan kemampuan setiap responden dalam menerima dan memahami materi kesehatan reproduksi remaja yang diberikan berbeda-beda antara satu siswa dengan siswa yang lain.

Hasil penelitian menggunakan pair t Test dengan nilai kesalahan (alpa) 0,05 diperoleh hasil yang signifikan (ρ=0,00) yang berarti ρ value <0,05. Hal ini dapat diartikan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yaitu ada perbedaan nilai pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja di SMA N 4 Purwokerto. Hasil analisis sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja diperoleh nilai rata-rata 61.61, kemudian setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata menjadi 75.96.

Keefektifan dari pendidikan kesehatan yang telah dihitung adalah sebesar 23.29%, hal itu dapat di artikan bahwah efektifitas dari pendidikan kesehatan hanya sebesar 23.29%. penyebab dari efektfitas pemberian pendidikan kesehatan hanya 23.29% adalah kurang konsentrasinya para responden dalam mengikuti pendidikan kesehatan, kondisi ruangan yang riuh karena para responden berbicara sendiri saat pendidikan kesehatan berlangsung, dan karena jumlah responden 62 siswi yang menyebabkan kurang idealnya peserta pendidikan kesehatan, idealnya jumlah peserta adalah 30 siswi. hal itu mengakibatkan penyampaian informasi tidak diterima dengan baik.

Notoadmodjo (2007)  penyampaian informasi dipengaruhi oleh metode dan media yang digunakan yang mana metode dan media penyampaian informasi dapat memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan. Ini dapat dilihat dari hasil analisis penelitian di atas yang menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, hal ini membuktikan bahwa metode pendidikan kesehatan efektif digunakan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja.

Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian sebelumnya yaitu oleh Dian Triana Sari (2008) tetang pengaruh pendidikan kesehatan tentang perawatan metode kanguru pada BBLR. Hasil penelitian nilai pengetahuan responden sebelum diberikan tindakan pendidikan kesehatan tentang perawatan metode kanguru pada BBLR menunjukkan bahwa 75,33% responden memiliki nilai pengetahuan kurang, Nilai pengetahuan responden setelah diberikan tindakan pendidikan kesehatan tentang perawatan metode kanguru pada BBLR mununjukkan bahwa 83,33% responden memiliki nilai pengetahuan baik, Hasil analisis menunjukkan bahwa metode penyuluhan efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang perawatan metode kanguru pada BBLR, hasil ini mengidentifikasi bahwa hipotesis penelitian diterima.

Adapun penelitian lain yang hasilnya sama dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Kholiatul Izza (2009) tentang pengetahuan dan sikap wanita terhadap pemeriksaan papsmear sebelum dan sesudah penyuluhan tentang pemeriksaan papsmear di RB Budi Rahayu Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Pada penelitian ini terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan (ρ=0,000) sesudah penyuluhan tentang pemeriksaan papsmear. Terdapat pula perubahan sikap yang signifikan (ρ =0,000) sesudah penyuluhan tentang pemeriksaan papsmear.

 

BAB V

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka dapat diambil kesimpulan :

  1. Rata-rata nilai pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah 61.61.
  2. Rata-rata nilai pengetahuan responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah 75.96.
  3. Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan remaja sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja yaitu sebelum diberikan pendidikan kesehatan nilai rata-rata 61,61 dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan nilai rata-rata 75.96 dengan standar deviasi sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah 7.45 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan adalah 8.53 dengan efektifitas sebesar 23.29 %.

 

  1. Saran
    1. Bagi Siswi

Pengetahuan remaja putri SMA Negeri 4 Purwokerto sudah mengalami peningkatan yang baik dengan adanya pemberian pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja. Namun untuk meningkatkan pengetahuan, remaja juga harus aktif dalam mencari informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja seperti membaca buku, membaca arikel dari internet dan informasi dari beberapa media elektronik seperti televisi atau radio. Hal ini bertujuan agar informasi-informasi yang didapat remaja tidak salah dan dapat digunakan sebagai acuan untuk remaja bersosialisasi dengan baik.

  1. Bagi tempat penelitian

Bagi tempat penelitian diharapkan lebih bisa memfasilitasi informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja seperti memperbanyak bacaan di perpustakaan, dan pengadaan penyuluhan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja.

  1. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya oleh peneliti-peneliti lain dengan memperluas variabelnya.

judul KTI

Posted: July 20, 2012 in Uncategorized

STUDI KOMPARATIF PENGETAHUAN SISWI SMA KELAS XI SEBELUM

DAN SESUDAH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN

TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

DI SMA N 4 PURWOKERTO

TAHUN 2012

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi

Persyaratan Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan

Disusunoleh :

FRISTHIAN LIES DWIYANTI

NIM. P17424309056

 

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN PURWOKERTO

JURUSAN KEBIDANAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

TAHUN 2012

 

CURRICULUM VITAE

Nama                          : Fristhian Lies Dwiyanti

Nim                             : P17424309056

Tempat/TanggalLahir : Purbalingga. 10 Desember 1990

Alamat                         : Ds. Ranjingan No. 28 Rt 02/9 Wangon, Banyumas

Institusi                        : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Prodi DIII Kebidanan Purwokerto

Angkatan                     : III (2009/2010)

Biografi                        :

-          TK  Aisiyah Bustanul AthfalTahun Lulus 1997

-          SD Negeri 1 Sampang CilacapTahun Lulus 2003

-          SMP Negeri 1 Sampang CilacapTahun Lulus 2006

-          SMA Negeri BanyumasTahun Lulus 2009

-          Poltekkes Kemenkes Semarang Jurusan Kebidanan Prodi DIII Kebidanan PurwokertoTahun Lulus 2012

MOTTO

©     Jeniusadalah 1 % inspirasidan 99% keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras.

©     Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.

©     Orang –orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan. Entah mereka menyukainya atau tidak.(Aldus Huxley)

©     Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil, kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik. (Evelyn Underhill)

©     Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul ombak. Ia tidak saja berdiri kukuh, bahkan menentramkan amarah ombak dan gelombang itu( Marcus Aurelius)

©     Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan dan saya percaya pada diri saya sendiri

(Muhammad Ali)

 

 

PERSEMBAHAN

Ku ukir nama dalam sebuah karya, ku ukir doa dalam sebuah ikhtiar. Tiada rangkaian kata yang sebanding dengan terselesaikannya karya sederhana ini kecuali ucap syukur atas kehadirat Alloh SWT yang selalu melimpahkan kasih sayangnya dalam segala hal, tiada yang lebih berharga selain penjagaannya diwaktu siang danmalam.

Mamah dan bapa, Untaian kata yang menjadi doa pada anak, yang selalu merepotkan, membuat kesal dan yang sering menyusahkan, namun dalam lubuk hati kecilku sungguh rasa sayangnya begitu besar.

Kakaku, Oktania Dian Lestari dan AndriSutrisno, terimakasih atas segala semangat, pengingat dan motivasi. Tiada yang lebih berharga kecuali perhatian yang lebih terhadap segala hal.

Sahabatku, teman dan saudara bagiku, Anaa makkati Shorayay, Helmiati, Diar Fitriana, Umi Sartika, Desi Ananda intan Cahyani, Tias Purwaningsih, Ayu Riski Khoirully, Veronicha Dyah, ,  yang selalu hadir disela – sela letih perih perjuangan ini. Kalian inspirasi yang selalu memberi semangat yang akan ada sampai nanti.

Dan……

Orang-orang yang pernah hadir kehidupanku. Entah bahagia dan duka. Dengan rasa terimakasih pada mereka  yang telah membantu dalam segala hal, yang mungkin tak bisa disebutkan satu persatu.

Biarkan, biarkanlah nama kalian terus mengabadi hingga aku paham bahwa kalian akan terus menjadi istimewa. Namun, aku pun paham bahwa suatu saat kita tidak bisa lagi untuk saling melempar senyuman. Yang kita punya hanyalah kenangan, maka dengan kerendahan hati izinkan aku mengenang kalian.

a sign of love for you

Fristhian_2012

  

  

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan  proposal karya tulis ilmiah yang berjudul “Studi Komparatif Pengetahuan Siswi SMA Kelas XI Sebelum dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja di SMA N 4 Purwokerto Tahun 2012”.

Dalam penyusunan proposal karya tulis ilmiah ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materiil, dengan tulus hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Sugianto, S.Pd, M.App, Sc, selaku direktur Poltekkes Kemenkes Semarang.
  2. Ibu Runjati, M.Mid selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang.
  3. Ibu Suparmi, S.Pd, S.SiT, M.Kes, selaku Ketua Program Studi Diploma III Kebidanan Purwokerto.
  4. Bapak M. Choiroel Anwar, SKM, M.Kes, selaku pembimbing 1 yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing,  mengarahkan dan memberikan dorongan.
  5. Ibu Henny Soetikno., S.SiT, M.Kes, selaku pembimbing 2 yang telah membimbing dan memberi masukkan serta semangat..
  6. Staf pengajar dan karyawan program Srudi Diplomat Tiga Kebidanan Purwokerto
  7. Kepala Dinas Pendidikan  yang telah membantu terlaksanya proposal penelitian ini.
  8. Kepala sekolah SMA N 4 Purwokerto yang telah membantu berjalanya proposal penelitian.
  9. Seluruh keluarga besar SMA N 4 Purwokerto khususnya kelas XI yang telah membantu.
  10. Ayah, bunda, kakak seluruh keluarga tercinta yang tidak pernah lelah mendoakan, menyayang, membimbing, dan memberikan semangat serta memenuhi segala kebutuhan dalam menggapai segala yang diinginkan.
  11. Sahabat-sahabat terbaik yang selalu ada dalam setiap waktu, baik suka dan duka. Yang akan selalu hidup dalam setiap hembus nafas, semoga menjadi kenangan termanis yang pernah ada.
  12. Teman-teman seperjuangan “angkatan 2009 Kebidanan Purwokerto” semangat juang kebersamaan kita, yang akan kita buktikan pada dunia bahwa kita bisa, semoga menjadi ujung tombak kesuksesan kita.
  13. Seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat saya ungkapkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa proposal karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kemajuan selanjutnya.

Purwokerto, 1 Juli 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………….. i

HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………………………………. ii

HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………………………….. iii

CURRICULUM VITAE……………………………………………………………………………….. iv

MOTTO…………………………………………………………………………………………………….. v

PERSEMBAHAN………………………………………………………………………………………. vi

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………… viii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………. x

DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………………. xiii

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………………….. xiv

INTISARI………………………………………………………………………………………………….. xv

BAB I           PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………. 1
  2. Perumusan Masalah……………………………………………………………. 4
  3. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 4
  4. Manfaat Penelitian……………………………………………………….. …….. 4
  5. Keaslian Penelitian………………………………………………………………. 6

BAB II          TINJAUAN PUSTAKA

  1. Tinjauan Teori…………………………………………………………………….. 8

a.Pengrtian Kesehatan Reproduksi Remaja……………………………… 8

b.Konsep Seksualitas……………………………………………………………… 9

  1. Remaja…………………………………………………………………………… 10

d.Organ dan Fungsi Reproduksi……………………………………………… 14

e.Kehamilan…………………………………………………………………………. 22

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi

Remaja…………………………………………………………………… …… 24

  1. Metode dan media promosi kesehatan………………………………. 48
  2. KerangkaTeori……………………………………………………………………… 60

BAB III         METODE PENELITIAN

  1. Kerangka Konsep………………………………………………………………. 61
  2. Variabel Penelitian……………………………………………………………… 61
  3. Definisi Operasional……………………………………………………………. 62
  4. Hipotesis Penelitian…………………………………………………………….. 62
  5. Ruang Lingkup Penelitian……………………………………………………. 63
  6. Jenis dan Rancangan Penelitian………………………………………….. 63
  7. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling……………………………….. 64
  8. Teknik Pengumpulan Data………………………………………………….. 66
  9. Instrument Penelitian………………………………………………………….. 66
  10. Metode Pengolahan dan Analisa Data………………………………….. 67
  11. Etika Penelitian………………………………………………………………….. 69

BAB IV         Hasil dan Bahasan

  1. Hasil Penelitian…………………………………………………………………………… 70
    1. Gambaran Umum………………………………………………………………. 70
      1. Hasil Analisis……………………………………………………………………… 73
      2. Bahasan Penelitian…………………………………………………………………….. 76

BAB V          Simpulan dan Saran

  1. Simpulan…………………………………………………………………………………… 83
  2. Saran ……………………………………………………………………………………….. 83

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

 

                                                Halaman

Tabel 1.1           Keaslian Penelitian……………………………………………………………….. 6

Tabel 3.1           Definisi Operasional…………………………………………………………….. 52

  

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

Lampiran 1.       Jadwal Penelitian

Lampiran 2.       Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 3.       Kuisioner

Lampiran 4.       Kunci Jawaban Kuisioner

Lampiran 5.       SAP (Satuan Acara Penyuluhan)

Lampiran 6.       Slide presentasi

Lampiran 7.       Input Data Statistik

Lampiran 8.       uji paired test

Lampiran 9.       Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Program Studi DIII Kebidanan Purwokerto

2012

STUDI KOMPARATIF PENGETAHUAN SISWI SMA KELAS XI SEBELUM

DAN SESUDAH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN

TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

DI SMA N 4 PURWOKERTO

TAHUN 2012

 

Fristhian Lies Dwiyanti1, M. Choiroel Anwar2, Henny Soetikno3

 

INTISARI

 

Tujuan dari pendidikan kesehatan reproduksi remaja adalah untuk meningkatkan tingkat pengetahuan remaja dalam memahami dan menyadari kesehatan reproduksi remaja, sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh remaja dapa meningkat seiring bertambahnya informasi yang diberikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan adalah pendidikan, pekerjaan, umur, lingkungan dan sosial budaya. Dan dengan adanya media mampu menambah daya ingat sehingga informasi yang didapat dapat direkam dengan baik.

Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas XI SMA Negeri 4 Purwokerto. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest and post test design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampling 62 siswi Kelas XI. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji pair t test.

Perbedaan tingkat pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja sebesar 61.61 dengan standar deviasi 7.45 dan tingkat pengetahuan remaja setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja meningkat yaitu sebesar 75.96. Dengan standar deviasi yang meningkat pula yaitu sebesar 8.53. terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja pada siswi kelas XI SMA Negeri 4 Purwokerto.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja pada siswi kelas XI di SMA Negeri 4 Purwokerto. Siswa sebaiknya meningkatkan tingkat pengetahuan mereka dengan banyak membaca buku dan mencari informasi sendiri dari internet atau media informasi lainnya.

Kata Kunci : Pendidikan kesehatan reproduksi remaja, Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja.

              

Polytechnic of Health Ministry of Health Semarang

 DIII Midwifery Studies Program of Purwokerto

2012

COMPARATIVE STUDY OF KNOWLEDGE HIGH SCHOOL STUDENT BEFORE CLASS XI HEALTH EDUCATION AND AFTER GIVING ON ADOLESCENT

REPRODUCTIVE HEALTH IN SMA N 4 PURWOKERTO YEAR 2012

 

Fristhian Lies Dwiyanti1, M. Choiroel Anwar2, Henny Soetikno3

 

ABSTRACT

The purpose of adolescent reproductive health education is to increase the level of understanding and knowledge of adolescents in adolescent reproductive health aware, so that the knowledge possessed by adolescents may increase with the information provided. Factors that influence the level of knowledge is education, occupation, age, social and cultural environment. And with the media is able to add memory so that the information obtained can be recorded properly.

This study is a comparative study with crossectional approach. The population in this study were young girls in SMA N 4 Purwokerto. The design of the study is a one-group pretest and post test design. Sampling technique used was purposive sampling with the sampling number of 62 students Class XI. Analysis of data using univariate and bivariate analyzes using t test test pair.

Differences in the level of knowledge before being given health education on adolescent reproductive health for 61.61 with a standard deviation of 7.45 and after a given level of knowledge of adolescent health education on adolescent reproductive health to increase the amount of 75.96. With a standard deviation also increases the amount of 8.53. there are significant differences before and after health education on adolescent reproductive health in class XI SMA N 4  Purwokerto.

There are significant differences between before and after administration of adolescent reproductive health education in class XI student at Senior High School 4 of purwokerto. Students should improve their knowledge level with a lot of reading books and seeking their own information from the internet or other information media.

Keywords: adolescent reproductive health education, factors that influence the level of knowledge, knowledge of adolescent reproductive health.

(Love Story)

Posted: July 15, 2012 in Uncategorized

kehidupaaan…

iyaa, kehidupan memang berjalan, dan berjalannya pun ke depan bukan kebelakang.. tapi jangan lupakan apa yang pernah menjadikan kita sekarang yaitu pengalaman.. boleh jadi karena pengalaman itu membuat kita lebih tegar dari sebelumnya.. dan semuanya itu adalah proses..

jatuh cinta, bahagia, sakit, dan kecewa..

 

tidak lepas dari perasaan manusia.. yang ada dan yang bisa diingat ada rasa sakit dan kecewa,

ketika kita sudah melakukan hal yang terbaik menurut kita dan memberikan yang terbaik.. tidak selamanya bisa dibalas dengan kebaikan pula..

dulu.. belajar dari pengalaman bahwa cinta harus memahami, mengenal lebih dahulu mungkin itu memang teori yang valid, kenali lebih dahulu pribadinya.. itu akan lebih baik untuk diri kita, bukan apa apa.. karena pengenalan ada proses tahu, jika sifatnya tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan, STOP! untuk terus maju.. kenapa ??? karena lebih baik kita mencari tahu lebih dulu bagaimana dy. apalagi kita sebagai wanita yang notabene gampang termakan rayuan lelaki. kenali dia, cari info sebanyak mungkin baru kita padu padankan dengan kenyataan.. bukan mencurigai tapi lebih ke waspada.. kalau sudah terlanjur menerima nantinya kita yang akan selalu menahan sakit, dan ohhh tidak mau lagi seperti itu.. dia yang sepertinya baik, ternyata senang menyakiti kita,, tidak mengerti kita.. untuk menghindari hal seperti itu lebih baik kita kenali dulu semuanya..

cowo yang udah kenalpun, terkadang beda dengan setelah berpacaran, jadi teori ini juga belum terlalu valid.. tapi paling tidak 50% yang kita kenal yang kita tahu pasti tak jauh beda,, dan kalaupun berbeda hanya beberapa persen..

menentukan pilihan, wanita dipilih dan lelaki memilih..

namun wanita juga berhak memilih..

kadang wanita sulit untuk menentukan pilihan, jangan bersusah susah dalam menentukan. pastikan org yang berniat baik padamu namun kita jangan percaya dulu 100%, biarlah mereka yang mencintai kita jangan kita yang mencintai mereka. karena orang yang mencintai kita akan melakukan hal terbaik untuk kita..

itulaah cintaa

sweet memories

Posted: December 30, 2009 in Uncategorized
Tags:

ada yang bilang that masa sma adalah masa yang indah terbukti dari 8anak dengan total 10 ,mengatakan ia!

mungkin dengan kedewasaan yang udah cukup kita bisa ngrasain persahabatan dan indahnya love….

what is love???

love itu bisa diartiin beda” tiap orang..

termasuk rasa sayang ia itu masuk dalam love,,

Hello world!

Posted: November 6, 2009 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!